Rabu, 03 Maret 2010

Puisi untuk "Koma"





Ajarkan padaku
bagaimana berdo'a untukmu
saat dendam ini masih membara

kuliahi aku
bagaimana melepaskanmu
ketika keikhlasan ku terengah engah

jelaskan padaku
bagaimana menghadapi malam
jika kau berikan senyum itu
pada sisi langit yang lain

tuliskan untukku
bagaimana menjalani siang
ketika ku belum berdamai dengan bayanganmu

katakan padaku
bagaimana puisi ini harus ku tulis
padahal mimpi itu telah pergi

ceramahi aku
bagaimana membuat titik
di mana koma adalah harapanku

dan,,, ajarkan padaku
bagaimana caranya mencintaimu



Surabaya,,Subuh 3 Maret 2010

Senin, 01 Maret 2010

Surat Buat Lia




Sayangku,,,
hari ini aku terdiam
kepada ramai musik kita
kepada serak basah suaramu
kepada bising tawa itu
kepada bisikan gerimis sore
kepada degup jantung
kepada gemuruh aliran darah
kepada lirih tangismu...

Sayangku,,,,
hari ini harus aku terdiam
pada setiap surgamu..
pada setiap ceritamu....

namun,,
hari ini ku kirimkan kepadamu...
sebuah surat beramplop coklat..
yang dapat kau baca dengan sederhana..
Karena cinta hanyalah sebuah kata
dan Rasa adalah kebenarannya...

Teater, Cinta Pertama Yang Hilang




Setiap orang punya cinta petama, dan kalau beruntung cinta pertama kamu adalah cinta sejati kamu. Orang mengira IT adalah dunia yang aku cintai. Tidak salah memang. Setelah 7 tahun (dari kelas 2 sma) stress – stressan dengan program computer, lama lama aku menikmati. Namun IT bukanlah cinta pertama-ku.

Adalah dunia teater yang menjadi cinta pertamaku. Lahir di keluarga seni dan agamis membuat aku terbiasa di atas panggung. Usia 2 tahun aku sudah ikut rombongan Musik Islam orang tuaku. Dari daerah ke daerah. Dari panggung ke panggung. Dari setiap music dan tabuhan rebana, dari setiap nyanyian dan tarian. Ah,,,aku menimati semuanya. Setiap anak anak didik mamaku mulai bernyanyi, aku selalu berlari ke atas panggung.

SMP ?? terbiasa mengikuti berbagai ajang lomba puisi atau drama menjadikan teater adalah satu satunya dunia yang aku memiliki prestasi. Teater mengajari aku menang dan kalah. Teater mengajari aku berproses. Mengajari aku mencintai dan memendam dendam.. kejayaan kejayaan itu. Hahhhh..kadang aku merindukannya.

SMA ?? selama SMA, aku lebih sering berkumpul dengan orang orang Bohemian. Seperti biasa,,gaya Anak jalanan bersatu dengan idealisme seniku…Aku lebih sering ada di trotoar atau gedung pementasan daripada belajar di rumah. Teater membuatku dikagumi orang, dihormati orang, dicinta orang, di “iri” orang. Teater bahkan menjadi trademark sendiri bagiku. Kadang nama Teater adalah nama belakangku. Orang sering bilang “Rizal teater itu ???...”. Teater, menjadi ciri khas diriku. Karena semakin lama didalam teater semakin aku menikmati hidup.

IKJ atau lengkapnya “Institut Kesenian Jakarta” adalah kampus idamanku. Dengan credit poin yang ku peroleh selama ini, aku yakin bisa masuk jurusan drama atau teater. Kuliah di IKJ adalah mimpi yang hampir saja menjadi kenyataan. Apalagi orang tuaku mendukung rencana besarku. Setiap ada artikel tentang IKJ aku kumpulin. Setiap ada informasi tentang IKJ aku pelototin. Senior senior di teaterku juga mendukung niatku untuk menuntut ilmu di IKJ.

Lalu apa yang terjadi ? semua orang berubah. Senior senior itu bungkam dan menghilang. Padahal salah satu diantara mereka adalah protolan IKJ yang berjanji melatihku. Ada apa ini ?? Oang tuak tiba tiba mendukung aku untuk kuliah di malang. Semua orang tidak lagi punya mulut yang sam dengan janji mereka dahulu. Tak ada satupun yang muncul ketika sepatu ketsku sudah selesai ku talikan, dan akan berngkat ke Jakarta.

Akhirnya aku menyerah. Hal yang tidak akan sekalipun ku ulangi. Kalah karena menyerah itu lebih menyakitkan daripada mati sekalipun. Aku tidak akan menyerah lagi sampai kiamat sekalipun. Poltek malang adalah pelabuhanku pertamaku dan juga pihak yang mengajariku tentang kemunafikan. Sebuah sekolah yang berdiri diatas kebohongan.

Semuanya kecewa,,,aku kehilangan cinta pertamaku. Aku juga meninggalkan komunitas teaterku itu. Mereka tentu saja akan kehilangan aku, walau ku tahu takkan seberapa parah. Orang tuaku juga kecewa dengan keputusanku meninggalkan Poltek malang dan menuju PENS. Keluar dengan bangga tentunya. Semuanya kehilangan.

Teater, adalah cinta pertamaku yang hilang. Cinta pertama yang tak bisa kuraih lagi hingga kapanpun. Aku mungkin akan mendapatkan cinta yang lain. Namun tidak akan sama dengan cintaku pada teater. Teater adalah mimpi yang pernah jadi kenyataan. Adalah gadis cantik yang pernah ku kawini. Namun sekarang hilang tak berbekas. Dan sekarang, aku berusaha mencintai sebuah dunia yang datang tanpa sengaja, “Computer”.

Senin, 22 Februari 2010

IMPIAN SEPANJANG MUSIM





jangan pernah ungkapkan kebencian
walaupun hati tak sudi
karena akupun tak tahu
sejak kapan aku mencintaimu

biarkanlah mimpiku terbang
bersama bayang - bayangmu
jikalau ragamu tak lagi merdeka

karena layar perahuku telah
menyebarangi samudera cintamu
dan sekarang berlabuh di hatimu
akupun tak tahu kenapa gelombang
tak membawaku berlayar kembali

cinta memang bukanlah madu
tapi segalanya adalah ruh dari cita
percayalah musim ini masih indah
dan tetap kunanti sampai flamboyan
harus berguguran, dan kubayangkan
kau memungutnya....dengan senyum
dan indah matamu berkata
" inilah cintaku......"

Bayangmu Malam Itu



bibir merah
semerah buah beri di bulan juni
semerah mawar, semerah mawar
kulit pucat sepucat sinar bulan
selembut gadis itu
hati sebiru laut dan langit
hati terbakar bagai api
di malam hari lembut dibawa pergi

Minggu, 21 Februari 2010

Tentang Laut



ada seorang penyelam. Pada saat usianya masih muda, dia sudah menyelam di semua bagian samudera di dunia. Kecintaannya pada laut adalah harga mati. Laut adalah daratan baginya, sedangkan tanah hanyalah persinggahan. Si penyelam belajar pada seorang Guru selam yang juga luar biasa. Guru selam ini juga sangat mencintai laut. Untuk mengetes pengetahuan dan kecintaan muridnya terhadap laut, maka sang Guru memberikan sebuah pertanyaan :

Anakku, apa itu laut ?

Sang penyelam mencoba berpikir sejenak dan kemudian dia berkata

“laut adalah tantangan guru..di sana kita dituntut untuk bisa waspada. Laut adalah tentang kepuasan yang tinggi ketika kita dapat mengawininya…laut adalah misteri yang harus dicari seperti membuka lembaran buku berdebu.”,

Si guru terkejut mendengar jawaban muridnya, dengan terpaksa dia harus memberikan penilaian bahwa muridnya tidak benar benar mencintai Laut. “Anakku,,sebaiknya kamu belajar lagi tentang menyelam. Dan kamu harus lebih rajin lagi mencintai laut…”

Sang Murid tentu saja shock. Dengan pengalaman dan kemampuanya selama ini, ternyata Sang guru menilai dirinya belum mencintai Laut. Namun dia harus tetap mengikuti perintah gurunya. Hari harinya semakin terisi dengan menyelam ke adasar laut. Semakin dalam hingga ke palung palung samudera belahan bumi manapun. 5 tahun kemudian dia kembali menghadap Gurunya. Dan berkata, “Guru saya sekarang sudah mengerti tentang laut.”. sang guru tersenyum berharap kali ini jawaban muridnya memuaskannya. “baiklah,,apa itu laut anakku ??”, tanya sang Guru

Kali ini sang murid berpikir agak lama, lalu mencoba menjawab :

“laut adalah tentang terumbu karang yang indah..tentang kehidupan ikan ikan yang menakjubkan…Tentang ombak yang selalu bergerak. Tentang kehidupan dan kematian ”, jawab sang pemuda dengan tersenyum puas.

Kali ini sang Guru menampakkan wajah murka. Anakku kau sudah ku suruh belajar tentang mencintai laut dengan mengerti laut. Namun 5 tahun tidak cukup bagimu untuk merenung. Renungkan kembali dan jangan kembali jika belum menemukan jawaban.

Sang murid pergi dengan rasa gundah. Apa yang dilakukannya lima tahun ini tidak cukup membuat gurunya puas. Dia duduk di tepi pantai. Memulai perenungan baru tentang laut. Kembali dia menyelam ke dasar dasar samudera untuk mengerti laut. Ternyata laut lebih rumit dari bayangannya. Semakin lama akhirnya dia semakin terbiasa dengan merenung sambil menyelam.

Sudah 10 tahun lebih dia masih belum bisa menemukan definisi Laut. Seperti yang di inginkan gurunya. Karena sekarang dia tidak lagi mau terburu buru untuk mengerti laut seperti dulu. Namun dalam hatinya dia semakin mencintai laut. Tanpa harus dia jabarkan laut itu sepert apa, namun dia merasa seolah olah laut adalah sesuatu yang sangat dekat. Dia mengenal laut seperti dia mengenal dirinya sendiri. Setiap jengkal kedalamannya, setipa tetes air nya, setiap wana…ah semua itu adalah keindahan yang tak sanngup dia katakan.

Suatu saat dia didatangi gurunya. Berbeda dengan waktu sebelumnya, kini sang Guru yang mencarinya. Sang Guru berkata “Anakku,, sekarang apakah kau mengerti tentang laut ? jawablah…Apa itu laut…” . sang murid hanya terdiam dan berpikir sangat lama. Dia tidak bisa mengatakan kepada gurunya seperti apa Laut itu. Dia tidak meceritakan kepada gurunya betapa dia mencintai laut. Apa lagi yang harus tergambar jika dirinya adalah laut itu sendiri. Namun akhirnya dia berusaha menjawab :

“Guru…Laut itu….” , kembali dia terdiam. Namu dalam wajahnya terukir banyak senyuman. Matanya begitu optimis untuk bercerita tentang laut. Namun bibirnya tak sanggup untuk berkata,sperti apa laut yang dia kenal.

Sang Guru tersenyum. Anakku sekarang kamu sudah mengerti tentang Laut.

*****

Dari cerita dia atas ada banyak pelajaran yang dapat kita petik. Salah satuny adalah bagaimana mengenal diri sendiri dan sesuatu yang kita cinta. Sebenanya itu dapat terjawab jika Si penyelam dapat merenung dengan tenang. Tanpa emosi dan egosi dalam menyikapi sebuah pertanyaan. Tapi dalam cerita ini juga mengajakan kepada kita bahwa, kedewasaan itu tidak hanya dapat diraih dengan merenung dan berpikir matang. Tapi juga harus berguru pada waktu. Karena waktu adalah guru yang sangat bijak dalam menunjukkan episode kehidupan kita.

Namun dalam hal ini saya tidak akan memberikan terlalu banyak ulasan perenungan. Anda sendiri yang harus menafsirkan sendiri pesan yang ada dalam tulisan ini. Bagaimana menurut anda ??

B I R U J I N G G A




Di ujung sore..
di tepi kesabaran...
mata itu,,,
tak sanggup sedetikpun kulewatkan

Di ujung Hujan
di tepi keresahan...
Bibir itu,,,
bagai ayat ayat Surga
yang tak sekejapun tak ingin ku dengar

Di Ujung Puisi
di tepi kerinduan,,
Rasa itu...
bagai masa lalu yang datang
yang tak terlintas dalam renungan
pada episode dendam...

Kau datang di Ujung Laguku
kau datang dengan sebuah mimpi
bahwa Kau juga adalah mimpiku.....


Surabaya,,dalam lamunan ,,,21 Februari 2010

Tanya Mbah Google

Shout Me !!!


ShoutMix chat widget